Senin, 11 April 2011

Alor



Kenangan Alor NTT


Alor from Wiki Sudah tiga tahun saya meninggalkan Alor – NTT (bukan alornya Malay!!) dan kembali ke Jakarta. Tadinya setelah saya kembali ke Jakarta saya akan menulis semua eksplorasi saya selama di sana. Saya putuskan untuk menundanya. Mengetes kalau saya masih ingat semua tentang Alor. Ternyata memang kenangan Alor memang sulit dilupakan. Dan berikut sedikit cerita selama eksplorasi saya di Kabupaten Alor (pulau Alor, pulau Pantar dan beberapa pulau kecil seperti Ternate).

Alor, merupakan sebuah kabupaten paling timur di provinsi NTT. Untuk mencapainya dapat ditempuh melalui laut yakni menggunakan Kapal Sirimau yang mengelilingi Nusa Tenggara dan Ambon dari Jakarta, atau dapat menggunakan pesawat udara. Saya memilih jalur udara karena saat menuju Alor cuaca tidak memungkinkan untuk menggunakan kapal laut. Untuk landing di Bandara Mali Alor melalui Bandara El Tari Kupang dapat menggunakan pesawat jenis baling-baling ATR-42 dari maskapai TriganaAir 5x seminggu dengan tarif sekitar 400rb.


Ibukota Kabupaten Alor adalah Kalabahi. Pemilihan Kalabahi menjadi ibu kota karena daerah Kalabahi lebih luas datarannya daripada daerah lainnya. Dulu ibu kota Alor pada jaman belanda adalah Alor Kecil. Letaknya di dataran paling barat pulau Alor. Dulu di sana dijadikan pelabuhan, pusat ekonomi dan pusat pemerintahan. Tidak heran jika di daerah tersebut tersisa peninggalan-peninggalan seperti: Pantai Makassar, Kampung Bajo atau Tionghoa asli Alor.

Keadaan Alam
Kabupaten Alor berbentuk kepulauan. Dataran umumnya didominasi oleh bukit-bukit batu kapur. Bayangkan saja lepas dari pantai disambut dataran berjarak beberapa meter lalu disambut bukit yang menjulang. Tidak jauh berbeda dengan tanah Timor, pulau-pulau di Alor umumnya memiliki jenis tanah keras sedikit liat dan berwarna kemerahan, selain batu kapur tentunya. Ada sedikit joke dari warga asli Alor “Tuhan itu menciptakan Alor mungkin dari sisa-sisa tanah di dunia. Lihatlah, misalnya, Jawa yang subur dan Papua yang rimbun. Ketika menciptakan Alor, tanah tersebut sudah habis. Jadilah begini” Sedih juga,.. Gersang? Yah begitulah tetapi masih lebih baik daripada Timor. Udaranyapun lebih lembab. Parahnya musim hujan di Alor hanya dalam (maksimal) tiga bulan. Sehingga untuk bercocok tanam kurang berhasil. Hasil pertanian dan kebun utama dari Alor adalah Kenari, Kayu Putih, Asam Jawa, Cengkeh, Kemiri, dan Vanili. Itulah sebabnya Alor mendapat julukan Alor Nusa Kenari. Herannya, meskipun kemiri menjadi andalan Alor, tapi masyarakatnya jarang menggunakan bumbu masak ini sehari-hari.

Jangan harap dapat menemukan sayur dan buah yang melimpah. Selama saya di sana sayuran paling nikmat adalah sawi hijau (caisim)! Selin itu saya (terpaksa) makan daun pepaya, singkong dan si pahit daun kelor! Alamak! Bagaimana dengan sayuran yang lain seperti wortel, buncis, kacang polong, kentang dll? Yah ada tetapi sulit didapat dan harganya pun mahal.

Pun ketika saya berada di kecamatan tertinggi di atas permukaan laut Alor, yaitu kecamatan Alor Selatan, saya pikir saya akan menemukan begitu lebatnya hutan di sana. Begitu suburnya sayuran dan buah-buahan yang tumbuh. Ternyata tidak demikian. Lagi-lagi masalah tanah yang tidak cocok. Adapun perikanan air tawar juga tidak bisa dilakukan di semua wilayah dikarenakan air yang begitu sulit didapat. Jangankan untuk membuat kolam ikan, untuk mandipun di musim kemarau tidak dilakukan oleh penduduk. Sayapun membiasakan diri dengan mandi pakai tisu basah.

Dan beruntunglah desa-desa yang berada di pinggir pantai karena umumnya lebih gampang mendapatkan air bersih. Seperti di Kecamatan Alor Barat Daya, pantai yang didominasi oleh batu kali di pinggir pantainya ternyata berguna sebagai penyuling alami air laut. Dalam keadaaan darurat kehabisan air tawar, jarak dua meter saja dari bibir pantai kita bisa menggali bebatuan dan menemukan air tawar dari hasil aliran air laut. Dan sudah tawar tentunya. Subhanallah!

Transportasi Alor
Sebelum ke Alor, saya sempat diberitahu kalau mau bepergian ke Alor menggunakan panzer. Saya pikir panzer yang dimaksud adalah kendaraan tank perang dari TNI. Nyatanya yang dimaksud dengan panzer adalah kendaraan off road seperti Hard Top, yang bagian belakangnya dibongkar sehingga menyerupai bak. Kendaraan yang seyogyanya menampung 4-7 penumpang ini secara de facto mengangkut 23 orang yang dijejali di bagian belakang mobil dengan kondisi berdiri atau bergelantungan! Belum lagi ditambah oleh barang-barang yang memenuhi kap mobil dan bagian penumpang. Ini sungguh terjadi pada saya. Pengalaman super-duper-extreme menjelajah pegunungan.

Saya bersama rombongan berjumlah 10 orang ditambah 5 personel TNI dan beberapa penumpang lain beserta hewan piaraannya sama-sama dijebloskan ke dalam tempat yang sempit berukuran sekitar 1.5×2m, Edan! Janji sopir panzer yang mengatakan cuma mengangkut 15 orang saja ternyata dusta. Tidak ada pilihan lain karena angkutan umum paling biadab ini terbatas dan tidak ada penggantinya dengan angkutan lain. Praktis mobilitas masyarakat sangat terbatas. Perekonomian juga kurang bergairah. Hasil bumi sulit dipasarkan ke kota. Barang dagang yang masuk ke desa-desa harganya menjulang tinggi.

Anugrah Alloh Untuk Alor
Meskipun keadaan alam yang berbukit-bukit, sampai-sampai untuk menuju ke suatu kecamatan dari kecamatan lain dibutuhan waktu tempuh sampai 7 jam, Alor memiliki keindahan alam yaitu laut! Dengan wilayah laut yang lebih banyak daripada daratan memiliki keuntungan tersendiri. Misalnya harga ikan sangat murah! :D Pernah teman membeli ikan segar dari hasil tangkapan nelayan. Karena sistem jual-beli di sini tidak menggunakan istilah ‘kiloan‘ dan mengenal istilah ‘tumpukan‘ maka teman berniat membeli ikan kembung dengan menggunakan istilah ‘nominal uang’ biar gak ribet. Kaget setengah mati, dengan uang 10rb dapet ikan kembung satu baskom besar, bisa untuk makan 15 orang selama dua hari, dengan sekali jadwal makan bisa ngembat 5-10 ekor ikan per orang. Itung aja sendiri berapa banyaknya!


Selain bisa pesta makan ikan setiap saat, dengan laut yang indah bisa memberikan kegiatan-kegiatan yang lebih banyak maanfaatnya daripada mudharatnya hehehe… Misalnya bengong menatap sunset sambil berdecak kagum atas keindahan yang diberikan Alloh. Olahraga air seperti renang dan dayun pun jadi aktivitas rutin di pagi hari. Selain itu di Alor terdapat beberapa spot yang bagus untuk diving dan snorkelling seperti Pantai Makassar dan Pulau Keppa. Sayangnya selama disana saya gak kesampaian untuk melakukan olahraga itu karena padatnya acara, kemahalan harganya, sampai pas benar-benar niat mau diving malah gak diladeni petugas karena bule-bule oztrali sedang berkunjung ke Alor dalam rangka Sail Indonesia 2007.

Kurangnya Kreatifitas
Kira-kira seminggu sebelum meninggalkan Alor untuk melanjutkan perjalanan ke Kupang, di Alor terdapat hajatan besar untuk menyambut tamu-tamu dari Oz itu dengan tajuk Alor Expo. Sempat ragu karena daerah kecil itu apa bisa membuat hajatan besar selevel internasional? Ternyata yah memang sedikit dipaksakan.

Menginjakkan kaki di Kalabahi melalui pelabuhannya mungkin sudah sedikit terjawab. Dermaga yang kecil, kurang fasilitas dan sedikit kumuh jadi ucapan selamat datang buat bule2 Oz. Rangkaian acara Alor Expo yang menampilkan kreatifitas warga juga maksa banget. Tahun ini Alor Expo mengambil tema tentang bambu. Bambu dengan kualitas baik ternyata tidak mudah dijumpai di semua penjuru Alor. Hanya kecamatan Alor Selatan saja yang melimpah akan bambu. Nah tiap kecamatan dipaksa untuk menampilkan kreatifitasnya dari bambu untuk di pamerkan di stan per kecamatan, selain kreatifitas atau hasil unggulan kecamatan seperti kain tenun atau makanan olahan. Bayangkan saja frame poto tidak layak jual yang terbuat dari bambu furnish seadanya dijual setara dengan sebuah selendang tenun dengan kualitas “bagus banget” yaitu 100rb aja!

Kurangnya pengetahuan kerajianan tangan. Kurangnya pembinaan masyarakat. Begitulah mungkin penyebabnya. Dan ternyata di kabupaten ini tidak terdapat gallery atau koperasi pengrajin. Dulu setelah gempa 2004 di Alor, Ibu Any Yudhoyono pernah merintis sebuah koperasi pengrajin kain tenun. Tetapi saat ini tidak berkembang. Entah mengapa. Padahal kualitas tenun sudah cukup baik.
Sosial dan Budaya
Orang Alor semuanya baik-baik meskipun bertampang sangar-sangar, gak cewek maupun cowok. Murah senyum dan polos! Dominasi penduduk beragama Kristen. Katholik dan Islam merupakan agama kedua terbanyak yang dianut di Alor. Tetapi hidup meskipun berbeda agama dapat hidup berdampingan dengan rukun. Bisa demikian karena mereka menganggap satu rumpun. Apalagi pada saat jaman PKI, orang Alor banyak yang belum beragama, dan karena takutnya operasi PKI, maka banyak yang memilih agama masing-masing. Ada yang memilih Kristen, Khatolik dan Islam. Satu keluarga bisa berbeda-beda keyakinan. Tetapi hebatnya sekali lagi hidup dengan rukun, berbeda dengan daerah-daerah lainnya di NTT yang terkadang rusuh karena dipucu oleh masalah agama.

Saking rukunnya toleransi antar umat beragama sesuai Pancasila dapat ditemukan disini. Misalnya saat pembangunan masjid, yang ikut bergotong royong tidak hanya muslim tetapi nasrani pun ikut membantu. Begitu juga misalnya ada slametan di gereja, muslimpun diundang. Perayaan lebaran, yang jadi tukang masak biasanya para tetangga nasrani. Sebaliknya demikian untuk perayaan natal. heran kan? Terlalu bertoleransi yah?
Mungkin benar! Tapi lagi-lagi saya terherman-herman saat adanya pesta syukuran kecamatan. Orang Alor memang doyan pesta. Begitu juga ketika saya mau meninggalkan kecamatan Alor Selatan untuk eksplorasi ke kecamatan berikutnya, maka si Ibu Camat memutuskan untuk bikin pesta. Karena di kecamatan itu didominasi nasrani maka santapan utama adalah babi! Alhamdulillah mereka mengerti kalau babi diharamkan bagi saya. Mereka tahu, karena mereka belajar dari muslim. Untuk menghormati saya dan teman-teman muslim lain maka mereka menyerahkan 3 ekor ayam untuk dimasak. Masih hidup?? Yah masih, karena mereka tahu untuk menyembelih dibutuhkan ucapan pengantar kematian bagia ayam ‘bismillahirrohmanirrohiim‘ dan mesti menghadap kiblat. Mereka pun tahu kalau memasak babi tidak boleh dalam satu wajan. Maka proses memasak ayampun terpisah. Bagaimana dengan peralatan dan penyajiannya? Yang ingin menyantap babi ternyata diberikan ruangan tersendiri. Piringpun dari rotan beralaskan kertas plastik. Sehingga najispun tidak menodai piring.

Selama disana juga saya mempelajari adab, kebiasaan orang Alor. Untuk masalah makan, biasanya hanya terjadi dua kali sehari: siang dan malam. Pagi hari tidak ada makan pagi, cuma minum teh/kopi dan makan camilan. Makanpun harus bersama-sama setelah semua siap. Nambah beberapa piring justru dianjurkan, karena semakin banyak kita makan si koki semakin senang. Tidak boleh meletakkan piring ke meja dari pangkuan selama masih ada yang makan, karena dianggap tidak menghormati napsu orang yang sedang makan, jadi mesti disiasati lama mengunyah makanan. Untuk minum biasanya setelah semua meletakkan piring kita boleh meneguk air.

Satu hal yang menarik,.. selama saya di Alor saya merasa Bahasa Indonesia sungguh-sungguh benar-benar diterapkan sebagai bahasa persatuan. Dengan bahasa daerah yang mencapai lebih dari 15 jenis, sampai-sampai satu desa bisa memiliki 3 bahasa daerah yang sangat amat jauh berbeda diantaranya, praktis dibutuhkan suatu bahasa agar dapat saling berkomunikasi. Yah itulah bahasa Indonesia! Semua bisa berbahasa Indonesia. Tidak tua maupun muda, yang sekolah ataupun tidak pernah sekolah. Bandingkan ketika kita berkunjung ke tanah Jawa (tengah dan timur), orang-orang tua kebanyakan tidak bisa berbahasa Indonesia. Pergi kemana-mana bahasa sehari-hari menggunakan bahasa Jawa.

Ada juga tradisi yang rada nyeleneh. Yaitu tradisi pemberian mahar kepada calon mempelai wanita. Kalau di beberapa daerah di NTT lainnya, mahar berupa babi hutan. Kalau di Alor mahar adalah Moko. Moko merupakan nekara perunggu berbentuk menyerupai tabung gendang, yang diseluruh permukaannya terdapat relief ukiran zaman prasejarah. Masyarakat percaya kalau moko didapat secara gaib, yaitu muncul kepermukaan dari tanah terpendam. Dulu digunakan oleh prajurit dalam berperang, yaitu ditabuh sebagai penyemangat perang. Seiring waktu Moko dijadikan sebagai mahar. Kalau diuangkan sebuah Moko yang cuma segitu kecilnya dan tidak begitu banyak manfaatnya malah bernilai jutaan, 5jt tepatnya! Gimana kalau keluarga mempelai pria gak punya Moko? Yah mesti pinjam dari tetua yang punya karena untuk mendapatkan Moko itu tidak mudah. Istilah pinjam disini bukan gratis, tetap saja bayar jutaan. Ada juga sih yang imitasian, bisa terbuat dari bambu, kayu, maupun perunggu juga tapi kualitasnya tidak sebagus dari jaman peninggalan. Seiring waktu juga mahar menggunakan Moko sudah agak jarang digunakan, terlebih bagi keluarga muslim. Biasanya yah digantikan dengan mahar uang ataupun seperangkat alat shalat. Bagimanapun juga ini adalah budaya kita. Budaya Indonesia! - alle's blog

Alquran tertua Indonesia di ALOR dan Perkembangan Dakwah Islam Kab Alor


Kabupaten Alor sebagai salah satu dari 16 Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah wilayah kepulauan dengan 15 pulau yaitu 9 pulau yang telah dihuni dan 6 pulau lainnya belum atau tidak berpenghuni. Luas wilayah daratan 2.864,64 km², luas wilayah perairan 10.773,62 km² dan panjang garis pantai 287,1 km. Secara geografis daerah ini terletak di bagian utara dan paling timur dari wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 8º6’LS – 8º36’ LS dan 123º48’ BT – 125º48’ BT. Batas alam Kabupaten Alor di sebelah utara dengan Laut Flores, sebelah selatan dengan Selat Ombay, sebelah timur dengan Selat Wetar dan perairan Republik Demokratik Timor Leste dan sebelah barat dengan Selat Alor (Kabupaten Lembata).
Pulau Alor merupakan bagian dari Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sekitar 260 km dari Kupang (Ibu Kota Provinsi NTT), 360 km dari Ende (Flores), dan 1600 km sebelah Timur Ibu Kota Jakarta. Lokasi ini bisa dicapai dengan menggunakan kapal boat dari Kupang selama sekitar 8 jam atau 55 menit dengan menggunakan pesawat udara melalui Bandara Mali.
Secara geografis kondisi daerah Alor merupakan daerah dengan pegunungan yang tinggi, dibatasi oleh lembah juga jurang yang cukup dalam dan sekitar 60 persen wilayahnya mempunyai tingkat kemiringan di atas 40 persen. Iklim yang tidak menentu merupakan hambatan atau masalah yang klasik di Alor. Selain itu curah hujan yang juga tidak menentu dan merata dimana musim penghujan relatif lebih pendek daripada musim kemarau. Keadaan geografis yang berbukit dan wilayah yang terjal merupakan tantangan tersendiri bagi para dai.
Sejarah Masuknya Islam
Badruzzaman, peneliti pada Balai Litbang Agama Makassar, menuliskan bahwa agama risalah yang paling pertama masuk di Kabupaten Alor adalah Agama Islam. Agama yang diperkirakan masuk pada abad 16 Masehi (ada pula sumber yang menyatakan abad 14 Masehi) bersamaan dengan jayanya Kerajaan Islam di Ternate, Maluku yaitu masa kesultanan Sultan Ternate yang bernama Babullah. Islam masuk ke Alor dengan dibawa oleh seseorang bernama Iang Gogo bersama-sama dengan lima orang saudaranya (demikian dituturkan Bapak Saleh Pango Gogo, keturunan ke 13 Iang Gogo).
Dalam perjalanan, mereka berkesempatan singgah di salah satu daerah kecil yang sekarang disebut Desa Aimoli, tempat berdiamnya Raja Baololong I. Mereka membangun persaudaraan dengan Raja Baololong.
Bentuk jalinan persaudaraan tersebut, sebelum mereka melanjutkan perjalanan, adalah kelima bersaudara mengadakan tukar menukar kenang-kenangan dengan Raja Baololong I. Kenang-kenangan persaudaraaan berupa Moko (Nekara perunggu peninggalan Kebudayaan Dongson, Vietnam) yang diserahkan oleh Iang Gogo dan saudaranya sedangkan Raja Baololong membalas persahabatannya dengan menyerahkan Pisau.
Dari perjalanan ke Pulau Pantar khususnya ke Balagar kelima bersaudara meneruskan perjalanan ke Tuabang. Di Tuabang inilah mereka bersepakat untuk berpisah dengan masing-masing membawa sebuah Alquran (terbuat dari kulit kayu) dan pisau khitan, sebagai bekal menyiarkan Agama Islam. Ilyas Gogo menetap di Tuabang, Iang Gogo ke Alor Besar (tempat dimana Alquran Kulit Kayu disimpan dan dipelihara dengan baik hingga saat ini), Djou Gogo ke Baranusa, Boi Gogo ke Pulau Adonara (Lamahala) Flores Timur dan Kimalis Gogo ke Kui (Lerambaing) Kecamatan Alor Barat Daya. Di tempat masing-masing itulah kelima bersaudara melakukan tugas mulia yaitu menyiarkan Agama Islam kepada pada penduduk yang saat itu masih menganut kepercayaan lokal.
Dari awal kedatangan Iang Gogo di Alor Besar, Agama Islam mulai tersebar di Kabupaten Alor. Iang Gogo menyampaikan Alquran Kulit Kayu kepada Raja Baololong II, sekaligus melakukan aktifitas keagamaan sebagai Guru Agama Islam kepada penduduk dengan mengajarkan tata cara mengaji, shalat lima waktu, puasa zakat, berakhlak mulia dan lain-lain sekaligus sebagai juru khitan.
Generasi Baru Dakwah Islam
Saat ini, lembaga sosial keagamaan Islam dan lembaga pendidikan Islam sudah mulai tumbuh di Kabupaten Alor. Dalam rentang waktu yang sangat panjang, saat ini juga telah banyak pemuda muslim dari Alor yang menimba ilmu Islam di Pulau Jawa. Baik dalam pesantren maupun sekolah dan universitas. Sarjana dan lulusan pesantren itu telah banyak pula yang kembali ke Alor dan berkiprah dalam mengembangkan Alor dan dakwah Islam.
Abdullah Rahman Shaleh, dai muda (36 tahun) yang kelahiran Marica (Desa Kayang), misalnya dapat dikatakan sebagai penerus tongkat estafet dakwah Islam di Alor. Sudah sekitar dua tahun secara rutin ia menyambangi pulau-pulau di Kabupaten Alor untuk berdakwah. Pada tahun 2007, Rahman direkomendasikan sebagai Dai Muhammadiyah dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Alor NTT. Ia diusulkan menjadi Dai Muhammadiyah di Kecamatan Teluk Mutiara dan Kecamatan Alor Barat Laut.
Pertimbangan dari PDM Kabupaten Alor terhadap kebutuhan Dai pada waktu itu adalah posisi kehidupan beragama di Kabupaten Alor-NTT di mana umat Islam merupakan kelompok minoritas dan rawan kristenisasi, sehingga perlu mendapatkan perhatian. Dai yang khusus membina umat di wilayah Kecamatan dan Pedesaan pun belum ada pada saat itu.
Melihat pertimbangan itu, MTDK PP Muhammadiyah mengangkat lulusan Program Studi Sastra Arab Universitas Gajah Mada (UGM) ini sebagai dai khusus untuk Program Dakwah Terpencil wilayah Kabupaten Alor-NTT pada tahun 2008. Sebagai dai khusus, hari-hari Rahman diisi dengan dakwah di berbagai tempat. Terutama di daerah terdekatnya dengan pembinaan kepada anak-anak di lingkungan terdekat. Kegiatan pembinaan bagi anak-anak dilakukan dengan mengadakan pengajian dan mengajar Al Quran. Selain itu, memakmurkan masjid dengan melakukan pembinaan jamaah dan generasi muda.
Setiap pekan da’i khusus ini juga mengunjungi desa-desa untuk berkhutbah. Tidak hanya sekali, tetapi kadang lebih dari itu ketika ada undangan untuk mengisi materi di suatu tempat dengan jarak yang jauh. Tidak jarang ia harus naik-turun bukit melintasi jalan yang rusak dan juga menyeberang laut ke pulau-pulau lainnya di Kabupaten Alor. Kegiatan pekanan yang dilakukan kebanyakan adalah khutbah Jumat dan ceramah-ceramah di berbagai majelis ta’lim. Di sela-sela kesibukannya sebagai dai ia juga menjadi Dosen Luar Biasa Universitas Muhammadiyah Kupang, Kampus II Kalabahi pada 2008.
Kondisi alam di Alor membuat beberapa daerah menjadi sulit dijangkau. Selain sarana jalan masih kurang baik, juga disebabkan transportasi laut yang membutuhkan biaya tinggi. Kondisi alam seperti itu tentu menjadi tantangan tersendiri di dalam penyampaian dakwah Islam dan pengembangan umat. Apalagi dana untuk dakwah terpencil yang dianggarkan dapat dikatakan sangat tidak memadai dengan memperhatikan kondisi Alor yang seperti itu. Kendati demikian, upaya para dai dalam membingkai pulau-pulau di Alor dengan dakwah Islam tidak tersurutkan. Bahkan memperlihatkan geliat dakwah yang lebih baik.
Di samping Rahman, ada pula Gunawan Bala. Pemuda kelahiran Pulau Kangge, 12 April 1977 ini sejak tahun 2004 telah memulai aktivitas dakwah bersama teman-temannya yang rata-rata adalah lulusan pesantren maupun universitas di Pulau Jawa. Dakwah yang dilakukan pertama kali secara non formal dan bersifat umum. Berbekal pengalaman dari pendidikan pesantren di Jawa Barat, kegiatan dakwah yang pertama kali dilakukan Gunawan bersama teman-temannya itu dibungkus dengan rangkaian program Safari Ramadhan di Kabupaten Alor.
Dai tamatan pesantren Persis yang juga sempat direkomendasikan PDM Kabupaten Alor sebagai Dai Muhammadiyah di Kecamatan Pantar, Pantar Timur dan Kecamatan Pulau Pura ini sering bersama ormas-ormas Islam yang ada melaksanakan berbagai pembinaan-pembinaan di masjid-masjid, yaitu pembinaan Khatib, Imam, Azan, dan Pengurus Mesjid sebagai inti dari penyelenggara masjid. Kegiatan itulah yang menjadi fokus utama dakwah saat itu.
Selanjutnya, ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah, Persatuan Islam, dan lembaga-lembaga dakwah lokal misalnya eLDaTa (Lembaga Dakwah dan Ta’lim) dimana perintisnya adalah Alumni dari pesantren di Jawa telah membina beberapa masjid di beberapa kecamatan di Kabupaten Alor. Ia mengatakan bahwa sampai hari ini dakwah yang dilakukan oleh para dai sudah hampir merata di seluruh pelosok Alor. Baik yang bergerak secara kelembagaan melalui lembaga-lembaga pendidikan sebagai guru ataupun dengan ormas-ormas Islam bersama dalam melaksanakan program-program dakwah rutin semacam Ta’lim pekanan bekerjasama dengan majelis ta’lim setempat. Baik majelis ta’lim Aisyiyah, Persistri, ataupun ibu-ibu Dharma Wanita yang berasal dari istri-istri pegawai negeri sipil.
Selain ormas-ormas Islam yang menyemarakkan dakwah, di Alor ada pula kelompok-kelompok suku seperti pemuda Sulawesi Selatan dan keluarga besar dari himpunan Jawa, yang merantau dan punya Majelis Ta’lim sendiri di Alor. Kelompok itu menjalankan pengajian tersendiri akan tetapi dai-dai baik dari Muhammadiyah maupun Persis dan eL DaTa yang mengisi kajian-kajian di sana. Jadi, artinya dakwah sekarang walaupun berjalan baru beberapa tahun sudah sampai ke pelosok-pelosok desa yang sangat jauh dari jangkauan sebelumnya dan juga dari beragam latar belakang. Selain itu, berkat dakwah dari generasi awal Islam seperti Iang Gogo di Alor dan pantang surutnya dai-dai muda saat ini hampir semua pulau telah terdapat kelompok muslim.
Kendati muslim hanya sekitar 27 % dari jumlah penduduk yang ada, Gunawan Bala mengungkapkan bahwa tidak ada tekanan yang berlebihan dari kelompok agama lainnya. Bahkan, secara politik perwakilan dari Partai Islam yang ada dapat menduduki lebih dari lima kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah di Alor. Yang menarik perhatian adalah banyak orang Islam yang kuliah di Universitas Katolik Widya Mandira (Unika) Kupang dan Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Sebaliknya, 70 persen non muslim menjadi mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK).
Mengenai upaya pengembangan umat, Rahman mengungkapkan bahwa potensi yang dapat dikembangkan adalah budidaya rumput laut yang mulai berkembang di masyarakat pesisir. Di samping itu, pada masyarakat di dataran tinggi cengkeh merupakan salah satu komoditi terbaik yang dapat dikembangkan. Untuk kondisi alam seperti Alor, Gunawan Bala mengusulkan agar dai bersama lembaga Islam lainnya juga dapat mengembangkan transportasi laut sehingga dapat memajukan ekonomi umat dan mempermudah gerak dakwah para dai dari pulau ke pulau. (fms)

Jumat, 21 Januari 2011

Sejarah Alor

MENURUT cerita yang beredar di masyarakat Alor, kerajaan tertua di Kabupaten Alor adalah kerajaan Abui di pedalaman pegunungan Alor dan kerajaan Munaseli di ujung timur pulau Pantar. Suatu ketika, kedua kerajaan ini terlibat dalam sebuah Perang Magic. Mereka menggunakan kekuatan-kekuatan gaib untuk saling menghancurkan. Munaseli mengirim lebah ke Abui sebaliknya Abui mengirim angin topan dan api ke Munaseli. Perang ini akhirnya dimenangkan oleh Munaseli.
Konon, tengkorak raja Abui yang memimpin perang tersebut saat ini masih tersimpan dalam sebuah goa di Mataru. Kerajaan berikutnya yang didirikan adalah kerajaan Pandai yang terletak dekat kerajaan Munaseli dan Kerajaan Bunga Bali yang berpusat di Alor Besar. Munaseli dan Pandai yang bertetangga, akhirnya juga terlibat dalam sebuah perang yang menyebabkan Munaseli meminta bantuan kepada raja kerajaan Majapahit, mengingat sebelumnya telah kalah perang melawan Abui.
Sekitar awal tahun 1300-an, satu detasmen tentara bantuan kerajaan Majapahit tiba di Munaseli tetapi yang mereka temukan hanyalah puing-puing kerajaan Munaseli, sedangkan penduduknya telah melarikan diri ke berbagai tempat di Alor dan sekitarnya. Para tentara Majapahit ini akhirnya banyak yang memutuskan untuk menetap di Munaseli, sehingga tidak heran jika saat ini banyak orang Munaseli yang bertampang Jawa.
Peristiwa pengiriman tentara Majapahit ke Munaseli inilah yang melatarbelakangi disebutnya Galiau (Pantar) dalam buku Negarakartagama karya Empu Prapanca yang ditulisnya pada masa jaya kejayaan Majapahit (1367). Buku yang sama juga menyebut Galiau Watang Lema atau daerah-daerah pesisir pantai kepulauan. Galiau yang terdiri dari lima kerajaan, yaitu Kui dan Bunga Bali di Alor serta Blagar, Pandai dan Baranua di Pantar. Aliansi lima kerajaan di pesisir pantai ini diyakini memiliki hubungan dekat antara satu dengan lainnya. Bahkan raja-raja mereka mengaku memiliki leluhur yang sama.
Pendiri kelima kerajaan daerah pantai tersebut adalah lima Putra Mau Wolang dari Majapahit dan mereka dibesarkan di Pandai. Yang tertua di antara mereka memerintah daerah tersebut. Mereka juga memiliki hubungan dagang, bahkan hubungan darah dengan aliansi serupa yang terbentang dari Solor sampai Lembata.
Jalur perdagangan yang dibangun tidak hanya diantara mereka tetapi juga sampai ke Sulawesi, bahkan ada yang menyebutkan bahwa kepulauan kecil di Australia bagian utara adalah milik jalur perdagangan ini.
Mungkin karena itulah, beberapa waktu lalu sejumlah pemuda dari Alor Pantar melakukan pelayaran ke Pulau Pasir di Australia bagian utara. Laporan pertama orang-orang asing tentang Alor bertanggal 8-25 Januari 1522, Pigafetta, seorang penulis bersama awak armada Victoria sempat berlabuh di pantai Pureman, Kecamatan Alor Barat Daya.
Ketika itu mereka dalam perjalanan pulang ke Eropa setelah berlayar keliling dunia dan setelah Magelhaen, pemimpin armada Victoria mati terbunuh di Philipina. Pigafetta juga menyebut Galiau dalam buku hariannya.
Observasinya yang keliru adalah penduduk pulau Alor memiliki telinga lebar yang dapat dilipat untuk dijadikan bantal sewaktu tidur. Pigafetta jelas telah salah melihat payung tradisional orang Alor yang terbuat dari anyaman daun pandan. Payung ini dipakai untuk melindungi tubuh sewaktu hujan.
***
Dengan Perjanjian Lisabon pada tahun 1851, kepulauan Alor diserahkan kepada Belanda dan pulau Atauru diserahkan kepada Portugis. Orang-orang Portugis sendiri sebenarnya tidak pernah benar-benar menduduki Alor, walaupun masih ada sisa-sisa dari zaman Portugis seperti sebuah jangkar besar di Alor Kecil.
Pada tahun 1911, Pemerintah Kolonial Belanda memindahkan pelabuhan laut utama dan pusat Pemerintahan Alor dari Alor Kecil ke Kalabahi. Kalabahi dipilih karena datarannya lebih luas dan lautnya lebih teduh.
Kota Kalabahi artinya pohon kusambi, yang mana dulunya memang menghutani dataran ini. Dengan pemindahan pusat kekuasaan ke Kalabahi, Pemerintah Kolonial Belanda menempatkan Mr. Bouman sebagai Kontroler pertama di Alor. Sebelumnya tanda kehadiran Kolonial Belanda di Alor, hanya terdiri dari seorang penjaga pos dan seorang serdadu berpangkat letnan.

PADA masa kontroler Bouman, beberapa pegawai pemerintah Belanda didatangkan. Upaya-upaya mengkristenkan para penganut animismepun mulai dilakukan.
Baptisan pertama dilakukan pada tahun 1908 di Pantai Dulolong, ketika seorang pendeta berkebangsaan Jerman, DS William Bach, tiba dengan sebuah kapal Belanda bernama Canokus, yang oleh orang Alor di zaman itu disebut dengan Kapal Putih.
Di antara mereka yang dibaptis terdapat Lambertus Moata dan Umar Watang Nampira, seorang penganut Islam yang taat. Lambertus Moata kemudian menjadi Pendeta Pribumi Alor yang pertama, sedangkan Umar Watang Nampira barangkali bersedia dibaptis untuk menghormati para pengunjung pada saat itu. Gereja pertama yang dibangun adalah Gereja Kalabahi (sekarang Gereja Pola). Gereja ini dibangun pada tahun 1912. Kayu-kayunya didatangkan dari Kalimantan, sedangkan pekerjanya adalah Pak Kamis dan Pak Jawas yang beragama muslim. Oleh karena itu, sampai saat ini masih merupakan sesuatu yang umum dilakukan di Alor bahwa pembangunan gereja dilakukan oleh orang Muslim dan Mesjid dilakukan oleh orang Kristen. Pada masa ini Alor terdiri dari lima kerajaan, yaitu Kui, Batulolong, Kolana, Baranusa dan Alor. Kerajaan Alor wilayahnya meliputi seluruh jasirah Kabola (bagian utara pulau Alor).
***
PADA tahun 1912 terjadi pengalihan kekuasaan raja dari dinasti Tulimau di Alor Besar kepada dinasti Nampira di Dulolong. Pemerintah kolonial Belanda lebih cenderung memilih Nampira Bukang menjadi Raja Alor sebab beliau berpendidikan dan fasih berbahasa Belanda. Sebagai kompensasi, putra mahkota Tulimau ditunjuk sebagai kapitan Lembur.
Pengalihan kekuasaan ini menyebabkan terjadinya beberapa pemberontakan, namun dapat diredam dengan bantuan Belanda, sehingga sehingga secara tidak langsung pengalihan kekuasaan ini telah menjadi bibit salah satu lembaran hitam sejarah Alor dengan terbunuhnya Bala Nampira.
Pada tahun 1915-1918, Bala Nampira menjadi raja menggantikan ayahnya dan pada tahum 1918 beliau mati terbunuh di Atengmelang. Penyebab terbunuhnya raja ini masih diperdebatkan sampai saat ini dan kadang-kadang dapat membangkitkan amarah di antara sesama orang Alor.
Diyakini bahwa anggota-anggota Galiau Watang Lema menganggap pergantian raja sebagai sebuah pelanggaran yang amat berat dalam aliansi mereka oleh karena sekutu dan saudara mereka telah dipermalukan.
Sementara itu, di Abui timbul rasa tidak puas dikalangan bangsawan oleh karena mereka diharuskan takluk kepada Pemerintahan Raja Nampira. Beberapa anggota Galiau Watang Lema yang tidak puas dengan pengalihan kekuasaan raja itu menjanjikan sebuah moko yang bernilai tinggi kepada seorang wanita dari Manet bernama Malailehi apabila dapat membunuh Raja Nampira. Dengan cara ini mereka berniat mengembalikan takhta Bungan Bali ke Alor Besar.
***
UNTUK memulihkan hukum dan pemerintahannya di Alor, maka Pemerintah Kolonial Belanda, melalui kontroler Mr. Muller menggunakan strategi yang ampuh, yaitu dengan mengawinkan Putra Nampira dengan Putri Bunga Bali dan berhasil dengan baik karena perdamaian pun tercipta pada saat itu. Pada tahun 1930-an, Pemerintah Kolonial Belanda mulai melakukan pembangunan wilayah. Para istri pegawai pemerintah dikirim ke Alor. Kerja sama dengan lima kerajaan relatif baik. Sepanjang jalan utama di tengah kota, rumah-rumah pegawai Pemerintah Kolonial dibangun. Beberapa di antaranya masih dipakai hingga kini. Jalan-jalan dibangun ke segala arah, bahkan saluran air pun dibangun, namun hanya untuk kebutuhan rumah sakit dan pegawai Kolonial Belanda.
Setelah sempat dijajah Jepang dalam Perang Dunia II, kemerdekaan Indonesia pun diproklamirkan. Walau demikian di Alor masih terdapat orang asing. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, sejumlah orang anti wajib militer dan misionaris datang ke Alor dan bekerja sebagai pendeta, perawat bahkan dokter. Di antara mereka terdapat suami-istri Dokter De Jong yang bekerja di Rumah Sakit Umum Kalabahi. Dalam bukunya Brieven aan Alor (Surat-surat ke Alor), Dokter De Jong menceritakan tentang pengalamannya bekerja di Alor. Menurut cerita orang Alor, ada salah satu dokter dari Jerman, Dokter Kleven memberi nama Loni kepada putrinya sesuai kata Balalonikai dalam sebuah lagu lego-lego yang terkenal yaitu Lendolo. # Dari berbagai sumber

Selasa, 18 Januari 2011

"Hari Itu" 10 thn Yang Lalu.

''Hari itu'' jam 12.00 siang di sebuah gubuk kecil milik tetangga rumah paman, seperti biasanya saya lagi asyik main remi dngn taruhan uang Rp 500'- ( Roma Irama bilang itu, 'JUDI'). Karena saat itu saya berstatus "PENGACARA" dengan titel SH. (Pengangguran Banyak Acara karna Sekolah Hala ' red), kegiatan ini sering di lakukan sekedar mengisi waktu selain nangkap ayam orang,nebang pisang/petik mangga orang dan lempar rumah tetangga biar rame dikala seppi ( Rhoma bilang itu 'MALING' )......hehehe.
nah disiang itu satu KEPUTUSAN sederhana dan lugu itu terjadi, yang ternyata merupakan Awal serta sebagai kompas untuk perjalann saya sampai hari ini.

Ceritanya,...........Next time ya....

Jumat, 19 November 2010

Surat Untuk Sodaraku di ALOR


Saat saya menulis artikel ini, saya sedang
berada di Jakarta. Saya menerima sebuah
sms dari seorang kawan di Alor yang
mengatakan..

"Kay, saya ingin sekali pergi ke Jakarta,
karena di sana pastilah saya bisa berhasil!"


SMS dari teman saya membuat saya berpikir,
kayaknya pikiran dia bisa jadi sama dengan
pikiran banyak teman-teman saya yang lain,
mereka yang selalu memikirkan kalau
'tempat lain' pasti lebih cocok untuknya bisa
menggapai sebuah kesuksesan!

Oleh sebab itu saya menulis sebuah artikel
dengan judul:

"Di Mana Tempat Terbaik Kita?"

Semoga tulisan saya bermanfaat, dan bisa
dijadikan inspirasi untuk Kawanku!

Dimanapun kita berada, maka disitulah
tempat terbaik kita..!

Seringkali kita merasa terkungkung
dengan lingkungan dimana kita berada.

Tidak jarang orang berpikir dan merasa
bahwa tidak mungkin bagi mereka untuk
bisa meraih sukses.

Misalnya mereka yang hidup di daerah
terpencil, merasa susah, dan jauh untuk
mendapat sentuhan teknologi, atau
menerima informasi terbaru dengan cepat.

Hingga berpikir, begitu susahnya
berjuang dan mengembangkan usaha.

Sebaliknya, mereka yang hidup di kota
besar berpikir betapa sesaknya dunia.
Begitu ketatnya tingkat persaingan
hidup.

Dimana pun berada, saling sikut, saling
senggol, saling tendang. Hingga akhirnya
memutuskan, memang susah untuk menjadi
yang terdepan.

Dalam berjuang segala sesuatunya memang
seringkali tidak sesuai keinginan kita.
Bisa jadi kita merasa lingkungan tidak
lagi ramah, dan kondisinya tidak nyaman.

Padahal sesungguhnya, dimanapun kita
berada, pahami bahwa ITULAH tempat
terbaik kita. Tempat dimana kita hidup,
tempat di mana kita memperjuangkan apapun
yang kita inginkan.

Sekarang, mari kita renungkan sejenak...

1. Jika kita selalu saja berpikir bahwa
tempat lain adalah lebih baik, maka
sampai kapan kita akan mulai berjuang?

2. Jika kita selalu saja menunggu
datangnya kesempatan emas di tempat
lain, berapa banyak waktu yang
terbuang, hanya sekadar untuk
menunggunya?

3. Jika kita selalu saja menunda apapun
yang bisa kita lakukan di tempat kita
berada sekarang, maka berapa banyak
kesempatan yang terbuang percuma?

Dan masih banyak lagi hal yang perlu
kita renungkan..!

Karenanya, jika saja kita mau berpikir
bahwa inilah tempat terbaik kita, maka
kita akan memiliki kesadaran dan kemampuan
untuk membuat segala sesuatunya menjadi
lebih baik, lebih bernilai, dan penuh arti!

temanku tersayang...

Kita semua memiliki kesempatan emas untuk
menjadi besar & benar dimana saja... asal,
kita mau memperjuangkannya!