Jumat, 19 November 2010

Surat Untuk Sodaraku di ALOR


Saat saya menulis artikel ini, saya sedang
berada di Jakarta. Saya menerima sebuah
sms dari seorang kawan di Alor yang
mengatakan..

"Kay, saya ingin sekali pergi ke Jakarta,
karena di sana pastilah saya bisa berhasil!"


SMS dari teman saya membuat saya berpikir,
kayaknya pikiran dia bisa jadi sama dengan
pikiran banyak teman-teman saya yang lain,
mereka yang selalu memikirkan kalau
'tempat lain' pasti lebih cocok untuknya bisa
menggapai sebuah kesuksesan!

Oleh sebab itu saya menulis sebuah artikel
dengan judul:

"Di Mana Tempat Terbaik Kita?"

Semoga tulisan saya bermanfaat, dan bisa
dijadikan inspirasi untuk Kawanku!

Dimanapun kita berada, maka disitulah
tempat terbaik kita..!

Seringkali kita merasa terkungkung
dengan lingkungan dimana kita berada.

Tidak jarang orang berpikir dan merasa
bahwa tidak mungkin bagi mereka untuk
bisa meraih sukses.

Misalnya mereka yang hidup di daerah
terpencil, merasa susah, dan jauh untuk
mendapat sentuhan teknologi, atau
menerima informasi terbaru dengan cepat.

Hingga berpikir, begitu susahnya
berjuang dan mengembangkan usaha.

Sebaliknya, mereka yang hidup di kota
besar berpikir betapa sesaknya dunia.
Begitu ketatnya tingkat persaingan
hidup.

Dimana pun berada, saling sikut, saling
senggol, saling tendang. Hingga akhirnya
memutuskan, memang susah untuk menjadi
yang terdepan.

Dalam berjuang segala sesuatunya memang
seringkali tidak sesuai keinginan kita.
Bisa jadi kita merasa lingkungan tidak
lagi ramah, dan kondisinya tidak nyaman.

Padahal sesungguhnya, dimanapun kita
berada, pahami bahwa ITULAH tempat
terbaik kita. Tempat dimana kita hidup,
tempat di mana kita memperjuangkan apapun
yang kita inginkan.

Sekarang, mari kita renungkan sejenak...

1. Jika kita selalu saja berpikir bahwa
tempat lain adalah lebih baik, maka
sampai kapan kita akan mulai berjuang?

2. Jika kita selalu saja menunggu
datangnya kesempatan emas di tempat
lain, berapa banyak waktu yang
terbuang, hanya sekadar untuk
menunggunya?

3. Jika kita selalu saja menunda apapun
yang bisa kita lakukan di tempat kita
berada sekarang, maka berapa banyak
kesempatan yang terbuang percuma?

Dan masih banyak lagi hal yang perlu
kita renungkan..!

Karenanya, jika saja kita mau berpikir
bahwa inilah tempat terbaik kita, maka
kita akan memiliki kesadaran dan kemampuan
untuk membuat segala sesuatunya menjadi
lebih baik, lebih bernilai, dan penuh arti!

temanku tersayang...

Kita semua memiliki kesempatan emas untuk
menjadi besar & benar dimana saja... asal,
kita mau memperjuangkannya!

Al Muanshar Umapura.



Bupati Alor Resmikan Masjid Al Muanshar Uma Pura

UMA PURA ON- Pergumulan panjang warga Uma Pura untuk beribadah di sebuah masjid yang lebih akomodatif akhirnya terjawab. Bupati Alor Drs. Simeon Thobias Pally, Senin (21/06) meresmikan penggunaan masjid Al Muanshar Uma Pura. Acara peresmian selain dihadiri para pejabat daerah, jemaah juga dihadiri tokoh masyarakat Uma Pura di Kupang dan Jakarta.
“Hari ini kita menyaksikan laut dan darat bersuka cita di Uma Pura atas diresmikannya Masjid Al Muanshar Uma Pura. Hakikat dan tujuan pembangunan masjid adalah bagaimana menciptakan rumah iibadah yang layak untuk beribadah,” kata Bupati Alor Drs. Simeon Thobias Pally mengawali sambutan pada kesempatan peresmian masjid itu.
Selain sebagai rumah ibadah demikian Pally, masjid juga dijadikan sebagai sarana melakukan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat, sarana komunikasi antara pimpinan umat atau pimpinan agama dengan umat.
Karena demikian pentingnya rumah ibadah mengharuskan semua pihak untuk bertanggung jawab dan terpanggil untuk membangun rumah ibadah.
Menurut Pally, keberhasilan pembangunan masjid yang hari ini diresmikan pemanfaatannya merupakan wujud umat atau jemaah di wilayah ini yang menempatkan Tuhan dalam perecanaan pembangunan.
Umat atau jemaah juga kata Pally, memandang pentingnya sebuah rumah ibadah yang lebih akomodative sebagai tempat beribadah sebagai salah satu motivasi yang mendorong dirampungkannya pembangunan Masjid Al Muanshar Uma Pura.
Dijelaskannya, masjid harus dipandang oleh jemaah sebagai lambang keagungan umat islam. “Begitu ada orang yang melintasi perairan laut Uma Pura dan melihat masjid yang megah seperti ini orang langsung bilang bahwa ada orang Islam di Uma Pura,” katanya.
Pekerjaan masjid sudah habis dan hari ini diresmikan, tetapi lebih dari pada itu orang nomor satu di Kabupaten Alor ini minta agar masjid ini dimanfaatkan secara maksimal untuk beribadah. Jika ini tidak dilakukan dengan baik maka sia-sialah upaya dan kerja keras jemaah membangun masjid.
Kepada semua pihak yang bekerja keras untuk membangun masjid ini Bupati Pally berpesan, hari ini sebuah karya besar telah diletakan untuk anak cucu di masa yang akan datang.
Ketua Panitia Pembangunan Masjid Al Muanshar Uma Pura, Drs. Haji Ismail Kasim dalam laporannya mengatakan, pergumulan panjang Umat Islam Desa Uma Pura untuk memiliki sebuah masjid yang lebih baik akhirnya tercapai. Pembangunan masjid memang baru dilakukan 3,5 tahun silam tetapi sesungguhnya keberadaan umat dan kegiatan keagamaan sudah ada sejak umat berada di Uma Pura.
Menurut Ismail Kasim, mendirikan bangunan Rumah Ibadah itu tidak gampang tetapi yang paling penting adalah nilai muatan rohaniahnya, nilai Taqwanya dan dasarnya juga adalah memiliki rasa tanggungnjawab.
Masjid terang Kasim adalah sarana respesentatif untuk mewujudkan keagamaan yang tinggi, seperti dalam surah At Taubah ayat 18 yang artinya ”Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta tetap melaksanakan Sholat, menunaikan Zakat dan tidak takut kepada apapun kecuali kepada Allah maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk,” kata Kasim.
Dia menegaskan, masjid harus dikelola dengan sebaik-baiknya karena masjid adalah pusat unggulan dakwah dan syiar Islam, tempat berangkat dan lepas landasnya keimanan umat.
Yang menarik demikian Kasim, bangunan fisik masjid ini didesain salah stafnya di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Propinsi NTT yang bukan seorang muslim. “Ini wujud toleransi dalam keberagaman kita,” katanya.
Menurutnya, membangun rumah Ibadah di dunia saat ini sama dengan mambangun rumah di akhirat.
Biaya yang dihabiskan dalam pembangunan ini sebesar Rp 299.871.000. Jumlah ini ini termasuk sumbangan para donator dan sumbangan 8 suku yang ada di uma pura yaitu uma kakang, uma tukang, uma aring, suku klaela-lolang, Filfalu lolang, dengfahi, filfalu lang dan suku leing papa.
Karena tinggal dan kerkarya di Kupang, Kasim kemudian mengisahkan bahwa pada setiap hari Sabtu yang merupakan hari libur ia jadikan sebagai waktu untuk berkunjung ke Uma Pura untuk terus mendorong semua jemaah agar proses pembangunan masjid yang diresmikan hari ini dapat dipercepat.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Alor Deny Lalytan mengatakan ibadah adalah panggilan orang percaya. Masyrakat Uma Pura perlu berbangga dan berbahagia karena selain rumah ibadah yang sudah selesai dibangun tapi Uma Pura juga mendapatkan keuntungan pertama sebangai perkampungan nelayan dan sebagai desa pendukung bagi wilayah terdekat dengan lokasi pariwisata Pantai Sabanjar.

Laporan moris weni

Kamis, 18 November 2010

Sadiki sa tentang Beta.

Anak Alor pung carita ni.

SADIKI SA E...

Gara-gara nama saya Hidayat, banyak orang berpikir saya orang Sunda atau ada
keturunan Sunda. Mungkin Anda pun pernah berpikir demikian.

Pertanyaan itu sering terjadi sejak saya masih duduk di bangku sekolah dan
sampai sekarang!

Nama saya memang Hidayat, tapi saya bukan orang Sunda, meskipun wajah saya agak-agak mirip Kang Dadang! ^_^

Nama 'Hidayat' itu sebenarnya diambil dari kata 'Hidayah'.

Ceritanya ibu saya 'Senang Bangat' saat melahirkan saya. Kalau bayi Umumnya khan
gitu dilahirkan pasti nangis, padahal lahirnya di Rumah sakit yg sangat Mewah dan mahal.
nah klo saya beda, dilahirkan di atas Ranjang bambu bahkan pemotong pusarnya dari sembilu karna saya lahirnya sama Ir.Dr.Kada ( gw yg ngasih gelar ke orang ini ) sang dukun beranak yg membantu proses kelahiran saya. saya lahir Tanpa Suara sekitar 45 menit,nah ibu saya sdh panik .... taukan klo anak segini gwanteng klo sampe ga ada. hehe di tengah kepanikan orang2 tiba tiba kedengaran suara mungil berwibawa kelar dari sang pangeran ....nah suara ini yang dianggap Hidayah oleh ibu saya.

Nah, mungkin dari sana mamaku Mendapatkan sesuatu hal yg sangat penting buat dirinya, dan dia memutuskan "Ini anak Membawa Hidayah", sampai beliau akhirnya memberi saya nama Hidayat. :-)


So, saudara saya ada 2. Yg pertama namanya Lepang ( nama warisan nenek ), nomor 2 setelah saya,dan adik saya yang bontot namanya Hulu ( biasa, nama warisan nenek kesayangan juga )

Begitu ceritanya.... jadi Teman2 sekarang tahu kalau saya bukan dan tidak ada turunan dari Sunda. Cuma wajah saja mungkin yaa sedikit mirip tahu Sumeddang! :-p

Saya sebenarnya asli dari Kampung Umapura.Ya, Umapura itu sebuah Kampung di daerah
Alor barat Laut. (kayaknya nggak ada di peta deh tpi di Google Art ada kok!) maka tidak jarang teman sayabilang, Kampung saya itu letaknya di Indonesia bagian Pojok! hehe

Dan memang, dari 10 orang teman / tamu yang mau berkunjung ke rumah saya, 9 di
antaranya pasti nyasar! Yang satu nggak nyasar, karena dia Orang Umapura juga.. lol