Jumat, 21 Januari 2011

Sejarah Alor

MENURUT cerita yang beredar di masyarakat Alor, kerajaan tertua di Kabupaten Alor adalah kerajaan Abui di pedalaman pegunungan Alor dan kerajaan Munaseli di ujung timur pulau Pantar. Suatu ketika, kedua kerajaan ini terlibat dalam sebuah Perang Magic. Mereka menggunakan kekuatan-kekuatan gaib untuk saling menghancurkan. Munaseli mengirim lebah ke Abui sebaliknya Abui mengirim angin topan dan api ke Munaseli. Perang ini akhirnya dimenangkan oleh Munaseli.
Konon, tengkorak raja Abui yang memimpin perang tersebut saat ini masih tersimpan dalam sebuah goa di Mataru. Kerajaan berikutnya yang didirikan adalah kerajaan Pandai yang terletak dekat kerajaan Munaseli dan Kerajaan Bunga Bali yang berpusat di Alor Besar. Munaseli dan Pandai yang bertetangga, akhirnya juga terlibat dalam sebuah perang yang menyebabkan Munaseli meminta bantuan kepada raja kerajaan Majapahit, mengingat sebelumnya telah kalah perang melawan Abui.
Sekitar awal tahun 1300-an, satu detasmen tentara bantuan kerajaan Majapahit tiba di Munaseli tetapi yang mereka temukan hanyalah puing-puing kerajaan Munaseli, sedangkan penduduknya telah melarikan diri ke berbagai tempat di Alor dan sekitarnya. Para tentara Majapahit ini akhirnya banyak yang memutuskan untuk menetap di Munaseli, sehingga tidak heran jika saat ini banyak orang Munaseli yang bertampang Jawa.
Peristiwa pengiriman tentara Majapahit ke Munaseli inilah yang melatarbelakangi disebutnya Galiau (Pantar) dalam buku Negarakartagama karya Empu Prapanca yang ditulisnya pada masa jaya kejayaan Majapahit (1367). Buku yang sama juga menyebut Galiau Watang Lema atau daerah-daerah pesisir pantai kepulauan. Galiau yang terdiri dari lima kerajaan, yaitu Kui dan Bunga Bali di Alor serta Blagar, Pandai dan Baranua di Pantar. Aliansi lima kerajaan di pesisir pantai ini diyakini memiliki hubungan dekat antara satu dengan lainnya. Bahkan raja-raja mereka mengaku memiliki leluhur yang sama.
Pendiri kelima kerajaan daerah pantai tersebut adalah lima Putra Mau Wolang dari Majapahit dan mereka dibesarkan di Pandai. Yang tertua di antara mereka memerintah daerah tersebut. Mereka juga memiliki hubungan dagang, bahkan hubungan darah dengan aliansi serupa yang terbentang dari Solor sampai Lembata.
Jalur perdagangan yang dibangun tidak hanya diantara mereka tetapi juga sampai ke Sulawesi, bahkan ada yang menyebutkan bahwa kepulauan kecil di Australia bagian utara adalah milik jalur perdagangan ini.
Mungkin karena itulah, beberapa waktu lalu sejumlah pemuda dari Alor Pantar melakukan pelayaran ke Pulau Pasir di Australia bagian utara. Laporan pertama orang-orang asing tentang Alor bertanggal 8-25 Januari 1522, Pigafetta, seorang penulis bersama awak armada Victoria sempat berlabuh di pantai Pureman, Kecamatan Alor Barat Daya.
Ketika itu mereka dalam perjalanan pulang ke Eropa setelah berlayar keliling dunia dan setelah Magelhaen, pemimpin armada Victoria mati terbunuh di Philipina. Pigafetta juga menyebut Galiau dalam buku hariannya.
Observasinya yang keliru adalah penduduk pulau Alor memiliki telinga lebar yang dapat dilipat untuk dijadikan bantal sewaktu tidur. Pigafetta jelas telah salah melihat payung tradisional orang Alor yang terbuat dari anyaman daun pandan. Payung ini dipakai untuk melindungi tubuh sewaktu hujan.
***
Dengan Perjanjian Lisabon pada tahun 1851, kepulauan Alor diserahkan kepada Belanda dan pulau Atauru diserahkan kepada Portugis. Orang-orang Portugis sendiri sebenarnya tidak pernah benar-benar menduduki Alor, walaupun masih ada sisa-sisa dari zaman Portugis seperti sebuah jangkar besar di Alor Kecil.
Pada tahun 1911, Pemerintah Kolonial Belanda memindahkan pelabuhan laut utama dan pusat Pemerintahan Alor dari Alor Kecil ke Kalabahi. Kalabahi dipilih karena datarannya lebih luas dan lautnya lebih teduh.
Kota Kalabahi artinya pohon kusambi, yang mana dulunya memang menghutani dataran ini. Dengan pemindahan pusat kekuasaan ke Kalabahi, Pemerintah Kolonial Belanda menempatkan Mr. Bouman sebagai Kontroler pertama di Alor. Sebelumnya tanda kehadiran Kolonial Belanda di Alor, hanya terdiri dari seorang penjaga pos dan seorang serdadu berpangkat letnan.

PADA masa kontroler Bouman, beberapa pegawai pemerintah Belanda didatangkan. Upaya-upaya mengkristenkan para penganut animismepun mulai dilakukan.
Baptisan pertama dilakukan pada tahun 1908 di Pantai Dulolong, ketika seorang pendeta berkebangsaan Jerman, DS William Bach, tiba dengan sebuah kapal Belanda bernama Canokus, yang oleh orang Alor di zaman itu disebut dengan Kapal Putih.
Di antara mereka yang dibaptis terdapat Lambertus Moata dan Umar Watang Nampira, seorang penganut Islam yang taat. Lambertus Moata kemudian menjadi Pendeta Pribumi Alor yang pertama, sedangkan Umar Watang Nampira barangkali bersedia dibaptis untuk menghormati para pengunjung pada saat itu. Gereja pertama yang dibangun adalah Gereja Kalabahi (sekarang Gereja Pola). Gereja ini dibangun pada tahun 1912. Kayu-kayunya didatangkan dari Kalimantan, sedangkan pekerjanya adalah Pak Kamis dan Pak Jawas yang beragama muslim. Oleh karena itu, sampai saat ini masih merupakan sesuatu yang umum dilakukan di Alor bahwa pembangunan gereja dilakukan oleh orang Muslim dan Mesjid dilakukan oleh orang Kristen. Pada masa ini Alor terdiri dari lima kerajaan, yaitu Kui, Batulolong, Kolana, Baranusa dan Alor. Kerajaan Alor wilayahnya meliputi seluruh jasirah Kabola (bagian utara pulau Alor).
***
PADA tahun 1912 terjadi pengalihan kekuasaan raja dari dinasti Tulimau di Alor Besar kepada dinasti Nampira di Dulolong. Pemerintah kolonial Belanda lebih cenderung memilih Nampira Bukang menjadi Raja Alor sebab beliau berpendidikan dan fasih berbahasa Belanda. Sebagai kompensasi, putra mahkota Tulimau ditunjuk sebagai kapitan Lembur.
Pengalihan kekuasaan ini menyebabkan terjadinya beberapa pemberontakan, namun dapat diredam dengan bantuan Belanda, sehingga sehingga secara tidak langsung pengalihan kekuasaan ini telah menjadi bibit salah satu lembaran hitam sejarah Alor dengan terbunuhnya Bala Nampira.
Pada tahun 1915-1918, Bala Nampira menjadi raja menggantikan ayahnya dan pada tahum 1918 beliau mati terbunuh di Atengmelang. Penyebab terbunuhnya raja ini masih diperdebatkan sampai saat ini dan kadang-kadang dapat membangkitkan amarah di antara sesama orang Alor.
Diyakini bahwa anggota-anggota Galiau Watang Lema menganggap pergantian raja sebagai sebuah pelanggaran yang amat berat dalam aliansi mereka oleh karena sekutu dan saudara mereka telah dipermalukan.
Sementara itu, di Abui timbul rasa tidak puas dikalangan bangsawan oleh karena mereka diharuskan takluk kepada Pemerintahan Raja Nampira. Beberapa anggota Galiau Watang Lema yang tidak puas dengan pengalihan kekuasaan raja itu menjanjikan sebuah moko yang bernilai tinggi kepada seorang wanita dari Manet bernama Malailehi apabila dapat membunuh Raja Nampira. Dengan cara ini mereka berniat mengembalikan takhta Bungan Bali ke Alor Besar.
***
UNTUK memulihkan hukum dan pemerintahannya di Alor, maka Pemerintah Kolonial Belanda, melalui kontroler Mr. Muller menggunakan strategi yang ampuh, yaitu dengan mengawinkan Putra Nampira dengan Putri Bunga Bali dan berhasil dengan baik karena perdamaian pun tercipta pada saat itu. Pada tahun 1930-an, Pemerintah Kolonial Belanda mulai melakukan pembangunan wilayah. Para istri pegawai pemerintah dikirim ke Alor. Kerja sama dengan lima kerajaan relatif baik. Sepanjang jalan utama di tengah kota, rumah-rumah pegawai Pemerintah Kolonial dibangun. Beberapa di antaranya masih dipakai hingga kini. Jalan-jalan dibangun ke segala arah, bahkan saluran air pun dibangun, namun hanya untuk kebutuhan rumah sakit dan pegawai Kolonial Belanda.
Setelah sempat dijajah Jepang dalam Perang Dunia II, kemerdekaan Indonesia pun diproklamirkan. Walau demikian di Alor masih terdapat orang asing. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, sejumlah orang anti wajib militer dan misionaris datang ke Alor dan bekerja sebagai pendeta, perawat bahkan dokter. Di antara mereka terdapat suami-istri Dokter De Jong yang bekerja di Rumah Sakit Umum Kalabahi. Dalam bukunya Brieven aan Alor (Surat-surat ke Alor), Dokter De Jong menceritakan tentang pengalamannya bekerja di Alor. Menurut cerita orang Alor, ada salah satu dokter dari Jerman, Dokter Kleven memberi nama Loni kepada putrinya sesuai kata Balalonikai dalam sebuah lagu lego-lego yang terkenal yaitu Lendolo. # Dari berbagai sumber

Selasa, 18 Januari 2011

"Hari Itu" 10 thn Yang Lalu.

''Hari itu'' jam 12.00 siang di sebuah gubuk kecil milik tetangga rumah paman, seperti biasanya saya lagi asyik main remi dngn taruhan uang Rp 500'- ( Roma Irama bilang itu, 'JUDI'). Karena saat itu saya berstatus "PENGACARA" dengan titel SH. (Pengangguran Banyak Acara karna Sekolah Hala ' red), kegiatan ini sering di lakukan sekedar mengisi waktu selain nangkap ayam orang,nebang pisang/petik mangga orang dan lempar rumah tetangga biar rame dikala seppi ( Rhoma bilang itu 'MALING' )......hehehe.
nah disiang itu satu KEPUTUSAN sederhana dan lugu itu terjadi, yang ternyata merupakan Awal serta sebagai kompas untuk perjalann saya sampai hari ini.

Ceritanya,...........Next time ya....